Ibu itu digoda habis-habisan ketika menjajakan aqua gelas bawaannya. Padahal cuaca sangat terik, bukan saatnya bercanda. Betul hanya aqua gelas yang ia jual. Entah mengapa ibu itu nekat berjualan aqua keliling perumahan yang penghuninya bisa minum dirumah jika haus. Ibu itu bukan lagi setengah baya, wajahnya tak berparas cantik. Kerutan diwajahnya seakan menjelaskan beban yang bertumpuk. Ibu Lilis namanya, ku dengar samar-samar ia sebut. Walau telah melayani godaan para penunggu pos ronda nyatanya aquanya tak laku juga. Mengapa hanya aqua yang ia jual? Mengapa tidak kue, pecel, jamu, atau sayur yang kebanyakan penjualnya adalah wanita? Tertatih, setengah membungkuk ia melangkah menjauhi mereka. Tak menampakan rasa kesal. Tapi sepertinya ia lelah… Bu…, teriakku! Sembari menyodorkan lembar ribuan. Dgn cepat ia keluarkan 2 gelas aqua. Terima kasih neng…suaranya lirih. Aku beranikan bertanya, mengapa hanya aqua yang ia jual? Jawabnya singkat : Yang paling dirasakan manusia adalah haus. Jawaban yang sederhana. Langkah kakikupun menjauh..merenungi..bahwa haus yang wanita itu katakan adalah soal ketidakpuasan. Krn manusia selalu haus kekuasaan, haus kasih sayang, haus perhatian dan haus kesenangan. Diam dalam pikir, dan yakin bahwa dialah wanita pembawa pesan yg bisa kita jumpai dalam wujud dan situasi yang berbeda.
(ing)